Senin, 20 Februari 2017

Menumbuhkan Budaya Literasi di Keluarga

Salah satu program unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang patut di apresiasi adalah "Gerakan Literasi Bangsa", yang bertujuan untuk menumbuhkan budi pekerti anak melalui budaya literasi. Mengutip dari triniharyanti.id, bahwa budaya itu berasal dari kata buddhi yang berarti akal, budaya masyarakat yang ada, dibentuk karena kebiasaan (kecerdasan/akal) dan fasilitas alam yang tersedia sebagai sumber kehidupan. Budaya itu adalah sebuah proses berfikir, yang dipengaruhi oleh agama (keyakinan hati), politik (aturan), bahasa (komunikasi), pakaian (perlindungan diri), bangunan (karya), seni (rasa). Sedangkan literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang di ikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya akan menciptakan karya.

Dibandingkan dengan negara-negara lain, indeks minat baca di Indonesia sangat rendah. Data statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan, baru mencapai 0,001 yang artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) pun menyebutkan, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar. Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. (Kemendikbud, 2016).

Menumbuhkan budaya literasi tentu bukan perkara mudah, karena yang dibangun adalah kebiasaan, maka diperlukan konsistensi dan upaya yang terus menerus sejak usia dini, mengingat tantangan yang makin beragam. Aku masih ingat, tahun 90an, tantangan belum seperti era sekarang, dimana TV, internet, media sosial terlalu banyak menyita waktu anak-anak. Dulu anak-anak lebih banyak membaca majalah anak seperti Bobo yang berisi dongeng, serial Bona, Nirmala, atau membaca komik Deni Manusia Ikan, Gundala Putra Petir. Banyak pula buku-buku berisi cerita rakyat seperti Sampuraga, Malin Kundang, Telaga Warna dll, yang mengandung pesan moral. Sementara era sekarang, anak-anak lebih dekat dengan Gadget dan media sosial, yang terkadang anak-anak belum mampu untuk memanfaatkannya. Alhasil, sebagian anak-anak malah menjadi korban dari interaksinya di media sosial.

Di sinilah peran sentral dari keluarga, sebagai unit terkecil dan sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Kita harus paham dan yakin bahwa menumbuhkan budaya literasi sama dengan membangun tangga-tangga untuk kesuksesan individu maupun negara. Kita ingat surat pertama yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam adalah surat Iqro' atau surat Al 'Alaq, yang di awal-awal surat berisi perintah membaca. 

menumbuhkan budaya literasi di keluarga

Cara-cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan keluarga adalah

1. Kenalkan buku kepada anak sedini mungkin
Anak merupakan makhluk peniru dan pencari tahu yang luar biasa. Andai orang tua gemar membaca, maka umumnya anak-anak pun akan mengikutinya. Kalo di lingkungan keluargaku, anak-anak sudah aku perkenalkan dengan buku saat mereka sudah bisa duduk. Buku-buku yang menarik perhatian mereka biasanya buku-buku dengan gambar yang berwarna-warni. Sambil duduk dipangku, biasanya anak akan antusias mendengarkan cerita dari buku yang kita bacakan, apalagi jika bisa menyampaikannya dengan gaya yang disukai anak.

2. Ajak anak ke toko buku atau bursa pameran buku
Pada umumnya anak lebih suka memilih sendiri apa yang disukai, termasuk buku. Misalnya anak ke 1 laki-laki (9th) lagi senang dengan buku-buku tentang kehidupan hewan-hewan liar di alam bebas dan buku tentang Doodle. Sedangkan anak ke 2 perempuan (6th) masih suka dengan buku-buku tentang Princess. Aku biarkan mereka memilih buku yang disukai selagi masih sesuai dengan usianya. Palingan sebelum ke toko buku, di rumah kami membuat kesepakatan terlebih dahulu, berapa jumlah dan nilai buku yang boleh dibeli, jangan sampai anak ngambek karena banyak buku yang mau dibeli tapi dana tidak mencukupi.

3. Berikan dorongan kepada anak untuk menceritakan kembali isi buku
Seringkali aku menanyakan kepada anak, terutama ke no. 1, "Buku ini ceritanya tentang apa Ka? seru nggak? Ceritain donk." Ini salah satu modus yang aku pakai untuk mengetahui kemampuan anak dalam menyerap informasi ataupun memahami cerita yang ada dalam buku. Inshaa Allah, andai anak sudah terbiasa seperti ini, maka di lingkungan sekolah pun tidak akan mengalami kendala dalam proses belajarnya.

4. Berikan pemahaman tentang pentingnya membaca
Orangtua terlebih dahulu harus memahami pentingnya membaca. Dengan membaca, kita dapat mengetahui berbagai ilmu pengetahuan dan juga pengalaman yang telah dilalui oleh banyak orang dalam berbagai profesi. Pengalaman-pengalaman tersebut tentu sangat bermanfaat bagi kita dalam mengarungi samudera kehidupan. George R. R. Martin mengatakan, "Reader lives at thousand lives before he dies. The man who never reads lives only one."

Orangtua yang dekat dengan anaknya tentu sudah mengetahui karakter anak, paham bagaimana memberikan penjelasan dan trik agar anak mau membaca. Kalo trik yang aku terapkan adalah dengan cara memberikan satu bintang, ketika anak selesai membaca buku dan menceritakan kembali isi buku. Setelah terkumpul lima bintang, mereka boleh mengajukan reward. Bentuk rewardnya, diantaranya buku cerita, coklat atau es krim kesukaannya. Pertama kali yang tertarik dengan trik ini justru anak ke 2 (6th), meski membacanya masih terbata-bata, namun tetap semangat.

5. Luangkan waktu untuk menemani anak
Para orangtua, meski baru pulang kerja, capek karena aktifitas di kantor dan macet selama perjalanan pulang, namun tetap harus meluangkan waktu buat anak. Aku mengambil waktu antara Maghrib sampai abis Isya untuk menemani anak. Shalat Maghrib berjamaah, dilanjutkan menemani si nomer satu mengulang hafalan surah, menambah hafalan satu dua ayat, mendengarkan dan menyimak bacaan Quran, lanjut mendengarkan cerita tentang kejadian yang dianggapnya penting disekolah. Kadang cerita tiap hari Rabu ya seputar penyelamatan gemilang dirinya sebagai kiper Tim Futsal di sekolah..haha. fa biayyi aalaaa'i robbikumaa tukazzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Alhamdulillah...

Yuk Bapak Ibu, Ayah Bunda, Papah Mamah...niatkan dan kumpulkan semangat untuk menumbuhkan budaya literasi di keluarga kita masing-masing. Memang tidak mudah, tapi aku yakin, gerakan ini akan mengantarkan anak-anak kita menjadi generasi yang kuat, mampu bersaing, berkualitas dan beradaptasi dengan kemajuan zaman.

Pejalan apa adanya, anti hoax, suka makanan tradisional, suka bacaan yang ringan dan sesekali menulis.

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon