Rabu, 25 Januari 2017

Maraknya Hoax dan Cara Menghindarinya

maraknya hoax dan cara menghindarinya
Perkembangan informasi dan telekomunikasi demikian pesat. Masyarakat hari ini demikian mudah mengakses beragam informasi hanya melalui smartphone yang berada dalam genggaman tangan. Tak hanya itu, masyarakat bisa dengan mudah melakukan aktifitas lainnya hanya dengan berdiam diri di rumah. Contohnya berbelanja, tranfer uang, pembayaran tagihan dan lain sebagainya. Namun, perkembangan ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi memberikan kemudahan dan membuat perubahan positif, baik dalam bidang sosial kemasyarakatan, ekonomi maupun bidang lainnya. Tapi di sisi lain, perkembangan ini telah memberikan dampak yang negatif.

Sebagai contoh, dalam bidang sosial kemasyarakatan, semakin mudah ditemukan konten bermuatan pornografi, mulai bermunculan kasus-kasus perselingkuhan ataupun perceraian yang bermula dari kebiasaan mengakses media sosial. Dalam bidang ekonomi, juga muncul kejahatan perbankan dan kasus-kasus penipuan yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi.

Dalam bidang informasi dan pemberitaan juga bermunculan berita-berita yang tidak bisa dipercayai kebenarannya alias HOAX. Inilah fenomena yang sedang marak terjadi. Pelaku ataupun korban dari penyebaran berita bohong atau hoax menyasar hampir sebagian besar kalangan, mulai dari institusi pemerintah, publik figur, ormas dan masyarakat awam.

Mengapa hoax marak terjadi? Dalam beberapa kasus hoax yang beritanya meluas sampai lingkup nasional, dapat di identifikasi pemicu hoax, diantaranya :

1. Motif ekonomi atau politik
Ada website personal bahkan media mainstream yang menyebarkan hoax karena motif tersebut. Kalo motifnya ekonomi, maka mereka akan membuat berita-berita yang terlihat heboh, sensasional, mengundang orang untuk mengklik link beritanya. Semakin besar kunjungan ke laman beritanya, maka semakin besar pula potensi penghasilan dari iklan yang tayang. Kalo motifnya politik, maka yang muncul adalah berita-berita yang berpotensi atau malah untuk menjatuhkan lawan politik, tokoh ataupun ormas yang berseberangan dengan mereka, dengan segala cara. Tak dapat dipungkiri, hoax semakin marak sejak pilpres 2014.

2. Pemicu lainnya adalah kebebasan yang keblabasan. Sejak era reformasi, kebebasan berpendapat semakin mendapatkan tempatnya. Semua orang bebas mengemukakan pendapatnya. Akibatnya bermunculan konflik, silang pendapat karena orang berpendapat di luar kapasitasnya. Meskipun telah ada UU ITE yang mengatur soal penyebaran informasi dan pemberian sanksi pidana penjara enam tahun dan denda Rp.1 miliar kepada siapa saja yang menyebarkan berita hoax walaupun hanya sekedar menyebarkan (forward), tidak semua orang dapat tersentuh aturan ini. Apalagi kalo aparat penegak hukum belum bisa menegakkan supremasi hukum sebagaimana yang tercantum dalam pasal 27 ayat 1 UUD Negara RI Tahun 1945; "Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya." Serta pasal 1 ayat 3 UUD Negara RI Tahun 1945; "Negara Indonesia adalah negara hukum."

3. Hilangnya netralitas dan objektifitas.
Salah satu unsur bobot kebenaran suatu berita adalah netral dan objektif. Prinsip ini seharusnya dipegang teguh oleh media massa, khususnya media mainstream karena mereka memiliki sumberdaya yang besar dan pembaca yang besar pula. Namun faktanya, media mainstream pun tidak lepas dari hoax. Hal ini mudah dipahami bahkan oleh orang awam. Karena media mengikuti arah kebijakan sang para pemilik media, yang notabene mereka adalah para politisi dan para pelaku ekonomi yang menguasai sebagian besar ekonomi di negeri ini. Poin ini berhubungan erat dengan motif ekonomi dan politik.

4. Rendahnya literasi digital masyarakat.
Perkembangan era informasi digital, masih belum di imbangi dengan kecakapan dan standar yang jelas dalam memilah suatu berita. Masyarakat masih dengan mudah menerima dan melahap semua berita, asalkan sesuai dengan kecenderungan, dan pilihannya. Dengan kata lain, masyarakat sangat mudah menerima berita asalkan menyenangkan hatinya.

Nah bagaimana sebaiknya kita bersikap agar tidak menjadi korban dari hoax atau malah tanpa disadari kita menjadi pelaku hoax? Ada beberapa cara yang dapat dilakukan :

1. Teliti sumber berita.
Berkaitan dengan hoax atau berita bohong, Allah SWT telah memerintahkan untuk meneliti kebenaran suatu berita sebelum mempercayai apalagi menyebarkannya, yang hanya akan menimbulkan keresahan dan kerusakan di masyarakat. 

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" (TQS.al-Hujurat 49 : 6)

Demikian pula jika kita mendapati berita tersebut berasal dari orang-orang munafik, karena mereka disebutkan oleh Allah SWT memiliki penyakit di hatinya dan gemar menyebarkan berita bohong. 

"Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya" (TQS. al-Ahzaab 33 : 60-61).

2. Jangan umbar aib orang lain dan mencari-cari kesalahannya
Salah satu cara untuk menangkal penyebaran hoax adalah dengan menanamkan sikap ke dalam diri kita masing-masing agar jangan mudah mengumbar aib orang lain terkecuali di minta oleh pengadilan untuk bersaksi ataupun untuk kepentingan lain yang membawa kebaikan. Kondisi inilah yang belakangan ini marak terjadi. Tokoh tertentu yang berseberangan pendapatnya, dicari-cari kesalahannya bahkan dengan pengaduan yang di luar nalar kebenaran.

3. Bandingkan berita tersebut dengan sumber lainnya
Akses yang mudah, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mencari pembanding akan kebenaran suatu berita. Saat ini hampir semua media baik mainstream maupun bukan, mesti di ricek kebenarannya. Media mainstream pun tidak luput dari hoax. Jadi jangan asal percaya, jangan sampai kita mengikuti apa yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya, karena kelak semuanya akan diminta pertanggungjawaban.

4. Tidak terbuai dengan sumber dan artikel yang terkesan ilmiah
Misalnya yang marak terjadi adalah informasi-informasi yang mengatasnamakan guru besar bernama A di fakultas Kedokteran Universitas X, menulis artikel bahwa penyakit Y bisa disembuhkan dengan cara bla bla bla. Ternyata pas di konfirmasi ke fakultas tersebut, tidak ada guru besar yang bernama A ataupun jika benar ada guru besar yang bernama A, yang bersangkutan membantah pernah menulis artikel tersebut. Ini salah satu contoh hoax yang marak beredar di masyarakat.

Demikian, semoga bermanfaat. Semoga kita terhindar dari masalah karena hoax baik sebagai korban ataupun tanpa disadari sebagai pelaku hoax. Aamiin

Pejalan apa adanya, anti hoax, suka makanan tradisional, suka bacaan yang ringan dan sesekali menulis.


EmoticonEmoticon