Rabu, 16 Maret 2016

Pendidikan dan Pola Asuh Yang Sehat

Seperti yang aku sampaikan di postingan sebelumnya, materi dari narasumber Seminar Nasional Parenting, akan aku share dalam beberapa postingan. Materi pertama dari Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. Alhamdulillah, puji syukur, diberikan kesempatan untuk belajar secara langsung dan bertatap muka dengan prof. Arief. Menurutku, aura beliau sebagai guru besar sangat terasa, beda dengan narasumber biasa. Saat acara baru dimulai, naluri beliau sebagai pendidik langsung muncul dengan melarang sebagian kecil ibu-ibu yang asyik jeprat jepret untuk memfoto dengan gadgetnya dan menanyakan apakah semua peserta sudah memperoleh handout dan sudah menyiapkan alat tulis? Teope bgt prof... jadi inget zaman kuliah baheula haha...

pendidikan dan pola asuh yang sehat

Pendidikan
Masuk ke materi awal. Dalam UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kata kunci untuk memahami pendidikan yaitu usaha sadar, terencana, suasana belajar, proses pembelajaran dan output/karakteristik yang dihasilkan. Orangtua, guru dan masyarakat harus memahami hak dan kewajibannya sebagai pendidik, dengan lebih mengutamakan pada akhlak dan karakteristik anak didiknya. Para pendidik harus memiliki pemahaman bahwa pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan para lulusan dengan karakteristik sebagai berikut:

1. Bertaqwa
Ketaqwaan adalah hal paling utama yang mesti dimiliki oleh anak didik. Ini adalah pondasi yang kokoh untuk menopang potensi-potensi lainnya. Apalah artinya kecerdasan tinggi tanpa kekuatan spiritual keagamaan? Yang terjadi kemungkinan adalah munculnya pribadi-pribadi dengan egoisme tinggi dan senang menabrak norma sosial dan keagamaaan.

2. Berkepribadian matang
Toleran tapi berprinsip, humble, tidak mudah terombang-ambing dalam menyikapi berbagai issue di era digital, percaya diri dan menghargai orang lain adalah beberapa sikap yang biasa terlihat dari sosok yang memiliki kepribadian matang.

3. Berilmu mutakhir dan berprestasi
Setiap zaman pastilah melahirkan tantangan-tantangan yang berbeda-beda. Untuk itu pendidikan harus mampu membekali lulusannya dengan ilmu-ilmu mutakhir yang sesuai dengan zamannya.

4. Memiliki rasa kebangsaan
Era digital telah mengikis sekat-sekat geografi sehingga terjadi komunikasi yang intens dan terbuka antar negara. Jika tidak hati-hati, pengaruh negatif dari negara asing akan dengan mudah masuk melalui berbagai jalan seperti ekonomi, budaya, gaya hidup, politik dan lain sebagainya. Atas nama pertumbuhan ekonomi, para pemimpin dengan wawasan kebangsaan yang dangkal akan dengan mudah menyerahkan penguasaan sumber daya alam ke pihak asing.

5. Berwawasan global
Para lulusan pendidikan calon pemimpin masa depan, wajib berwawasan global agar memahami issue-issue yang sedang berkembang dan bisa menghadapai berbagai tantangan di era globalisasi. Tantangan tersebut diantaranya tentang masalah teknologi, krisis energi, perubahan iklim, persaingan lapangan pekerjaan, komunikasi yang intens dan terbuka serta komunitas yang sangat heterogen.

Pola Asuh Yang Sehat
Pola asuh di lihat dari perilaku orangtua, bisa dibedakan menjadi 4 pola:

1. Otoriter
Pola asuh yang otoriter, tercermin dari perilaku orangtua yang merasa paling tau, berkuasa, suka memerintah, selalu merasa benar dan suka menyalahkan serta emosial. Perilaku semacam ini cenderung menjadikan watak anak : merasa kurang tau, tidak berdaya, menurut, takut salah, temperamen dan menerima saja.  Sehingga jati diri anak yang muncul adalah sulit mengaktualisasikan diri, tidak berprestasi, kepedulian rendah, mendahulukan emosi untuk menyelesaikan masalah dan mudah terpengaruh.

2. Terlalu Melindungi
Pola asuh yang terlalu melindungi anak, biasanya terlihat dari perilaku orangtua yang selalu memanjakan, memenangkan dan membela sang anak, sehingga watak yang timbul dalam diri anak adalah menjadi tergantung, merasa terjamin dan selalu berlindung pada orangtua. Kondisi ini dapat menyebabkan anak menjadi sulit berperan dewasa, merasa berkuasa dan rentan atau tidak tahan banting dalam menghadapi kesulitan.

3. Terlalu Membebaskan
Pola asuh yang terlalu membebaskan muncul dari perilaku orangtua yang sangat percaya pada anak dan cenderung mengijinkan semua permintaan sehingga anak merasa sudah dewasa dan tidak terikat sistem. Jati diri anak yang muncul adalah kemauannya yang mesti dituruti dan bisa menjadi liar atau binal. Aku jadi teringat salah satu peristiwa, kala itu ada berita kematian anak lelaki dari seorang musisi beken di tanah air. Yang menjadi perhatianku saat itu adalah usia anak tersebut yang masih belia, sekitar kelas 2 SMP kalo nggak salah, namun sudah memiliki tato permanen di leher, merokok dan DO pulak dari sekolah. Aku kira watak dan jati diri anak tersebut adalah penggambaran yang nyata dari pola asuh yang terlalu membebaskan.

4. Suri Tauladan
Inilah pola asuh yang ideal bagi anak. Perilaku orangtua seharusnya bisa menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Paerilaku ini tercermin dari kemampuan orangtua untuk mengarahkan atau menjelaskan, mampu dan mau berdialog dengan anak, memberi pedoman/berprinsip, bekerjasama dan membimbing anak. Ketika anak mendapatkan perlakuan semacam itu, umumnya anak akan menjadi hormat kepada orangtua, senang berdiskusi, memiliki kesadaran dan tujuan hidup, merasa diperlukan dan memiliki tempat bertanya, sehingga pada akhirnya anak akan mampu menjaga nama baik keluarga, mudah bersosialisasi, berprinsip, dewasa dan memiliki akar dalam keluarga. Meski sulit menjadi orangtua yang ideal, tapi bukan hal yang mustahil juga kalo kita sebagai orangtua, berusaha memberikan pola asuh yang terbaik buat anak. Memberi keteladanan dari hal yang kecil dan selalu berdoa untuk kebaikan anak, aku kira bisa mulai diterapkan dan menjadi budaya yang baik di lingkungan keluarga.

Disclaimer : postingan ini hasil dari mengikuti Seminar dengan narsum prof. Arief, namun kalo ada hal yang kurang pas, bisa jadi karena pemahamanku yang bias, silakan di komplen di kolom komentar.

Pejalan apa adanya, anti hoax, suka makanan tradisional, suka bacaan yang ringan dan sesekali menulis.

2 komentar

Terimakasih sudah berbagi

Sami2...semoga bermanfaat


EmoticonEmoticon