Rabu, 29 Juli 2015

6 Cara Memupus Sifat Rakus dan Tamak

Hidup berlimpah harta tidak menjamin akan jauh dari sifat rakus dan tamak. Sifat inilah yang menjerumuskan pelakunya dalam kebinasaan dan kehinaan. Tengok saja pemberitaan di berbagai media massa, bisa di saksikan bahwa mereka yang terjerat kasus korupsi bukanlah orang yang miskin harta, melainkan orang yang kaya raya dan menduduki jabatan-jabatan strategis. Dan bukan tidak mungkin, jika tidak hati-hati, kita bisa terjangkiti sifat tersebut. Berikut 6 cara memupus sifat rakus dan tamak agar tidak bersemayam dalam diri kita:

1. Menerapkan pola hidup ekonomis dan tidak berlebihan dalam berbelanja.
Pola hidup ini adalah manifestasi dari sifat qonaáh yang seharusnya ada dalam diri seorang muslim. Sifat ini akan membawa pemiliknya kepada rasa yang cukup terhadap apa yang telah Allah anugerahkan dan tidak memandang secara berlebihan terhadap masalah keduniawian. Ciri yang dapat ditemukan apakah orang tersebut sudah memiliki sifat qonaáh atau belum adalah dengan melihat kebiasaannya berbelanja. Orang yang qonaáh berbelanja sesuai dengan kebutuhannya, bukan sesuai dengan keinginannya. Beda khan antara kebutuhan dengan keinginan? Orang yang terlalu banyak keinginan, cenderung rakus dan tamak.

6 cara memupus sifat rakus dan tamak

2. Jangan terlalu mencemaskan rezeki.
Meski sulit, tetapi tetap harus yakin bahwa Allah yang menjamin rezeki setiap makhluknya. Tiada yang melata di muka bumi melainkan Allah telah menanggung rezekinya(1). Luar biasa khan, jadi kenapa mesti cemas?  Bisa jadi karena ketaatan kita kepada Allah masih sangat kurang. Saat diperintahkan untuk berinfak, hati masih terasa sangat berat untuk mengeluarkan sedikit harta yang kita miliki. Padahal Allah telah memerintahkan jika rezeki kita sempit, kita justru dianjurkan untuk berinfak dengan harta yang diberikan Allah(2).

3. Meningkatkan ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah.
Adakalanya sebagian dari manusia merasa bahwa Allah kurang adil terhadap dirinya. Ia merasa sudah bekerja keras, namun hasilnya hanya sekedar cukup untuk keperluan sehari-hari, bahkan kurang. Sementara ia melihat saudaranya yang tidak sekeras dirinya dalam mencari nafkah, namun diberikan rezeki yang melimpah. Melihat kondisi seperti ini, sudah sewajarnya kita introspeksi diri, bisa jadi sempitnya rezeki karena minimnya ketaqwaan dan ketaatan kita kepada Allah SWT. "Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. 65 : 2-3).

4. Kenali dan pahami kebaikan yang terkandung dalam sifat qonaáh sehingga kita hidup mulia, kehormatan terjaga karena tidak menggantungkan pertolongan orang lain. Kenali keburukan dari sifat rakus dan tamak, karena sifat ini menjauhkan ketaatan kita kepada Allah, membawa kehinaan bagi pelakunya dan dapat memutuskan tali silaturahim diantara saudaranya.

5. Seringlah membaca kisah hidup para Nabi, Rasul, dan orang-orang shalih. Mereka memiliki sifat qonaáh, taat dan memiliki pola hidup yang sederhana. Dari merekalah kita bisa merenungi dan memahami arti sebuah keberkahan hidup. Mereka jadikan dunia ini sebagai jembatan untuk meraih kebahagiaan yang abadi di akhirat.

6. Perhatikan keadaan orang yang ada di bawah kita.
Seringkali kita merasa kurang puas dengan apa-apa yang kita miliki karena kita membandingkan dengan orang lain yang berada di atas kita. Kadang kala kita kurang bersyukur dengan rumah yang sudah kita miliki karena lebih kecil dari milik tetangga. Padahal masih banyak yang bahkan belum memiliki rumah. Kita pun masih kurang bersyukur dengan motor yang kita miliki karena tetangga kita sudah memiliki mobil, padahal masih banyak yang untuk makan sehari-hari saja masih susah. Itulah pentingnya kita mencari pembanding yang benar dan tepat agar rasa syukur kita bertambah.

Demikian 6 cara memupus sifat rakus dan tamak. Semoga kita dijauhkan Allah dari memiliki sifat semacam itu. Semoga Allah melapangkan rezeki kita semua... Aamiin.

(1). "Tiada yang melata di muka bumi melainkan Allah telah menanggung rezekinya" (QS. Hud : 6)
(2). "Hendaklah orang yang mampu berinfak menurut kemampuanya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah berinfak dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan"(QS. Ath-Thalaq : 7)

Catatan : postingan ini sebagai pengingat diriku sendiri dan semoga bermanfaat buat sahabat semua. Jika ditemukan kesalahan dalam penulisan dan penafsiran ayat-ayat suci, akan direvisi.

Pejalan apa adanya, anti hoax, suka makanan tradisional, suka bacaan yang ringan dan sesekali menulis.

2 komentar

aamiin.... kita harus sering2 melihat kebawah,jgn mendongak ke atas ya spy slalu merasa bersyukur,thx 4 sharing :)

Sama2 mba Aira... Smoga kita menjadi hamba2 Allah yg sll bersyukur...Aamiin.


EmoticonEmoticon