Jumat, 22 Mei 2015

Ramadhan Romantis di Kampung

Tak terasa ya, kita akan dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu lailatul qadar(1) . Inilah bulan yang menurutku mampu membangkitkan romantisme kita sebagai seorang muslim. Jangan nanya tentang arti romantis padaku, karena aku bukan ahli bahasa...hahaa. Namun secara sederhana, aku mengartikan romantis itu sesuatu hal yang mengasyikkan. Ya, rasanya sulit dibantah kalo bulan Ramadhan itu memang mengasyikkan. Pasti banyak kenangan yang membekas dalam diri kita saat mengingat kembali Ramadhan-Ramadhan yang telah kita lalui. Salah satu yang tetap kuingat adalah menjalani Ramadhan saat masih remaja, ya usia SMP-SMA.

ramadhan romantis di kampung
Aku menjalani masa remaja di sebuah kampung di Jawa Tengah. Saat itu syiar Islam di kampungku tengah menggeliat, terutama generasi mudanya. Bisa dibilang generasi angkatanku saat itu adalah generasi emas. Banyak remaja-remaja yang cerdas dan nggak neko-neko. Salah satu indikasinya, banyak remaja di kampungku yang berhasil masuk ke sekolah SMP dan SMA favorit. Kegiatan remaja di Mesjid pun cukup semarak. Di zamanku itulah mulai terbentuknya organisasi Remaja Islam Masjid. Kami biasa menyebutnya RISMA. Meski organisasi ini digawangi oleh anak-anak SMP dan SMA, tapi banyak kegiatan dan program kerja yang bisa berjalan. Kegiatan yang paling banyak meninggalkan kenangan ya kegiatan di bulan Ramadhan.

Saat itu organisasi RISMA didukung penuh oleh DKM Masjid untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan di bulan Ramadhan. Kegiatan tersebut diantaranya : Kajian ke-Islaman seminggu dua kali, tadarus Al Qur'an setiap malam ba'da shalat Tarawih, Kultum setiap hari sesudah shalat Shubuh. Termasuk kegiatan membersihkan Masjid dan lingkungannya serta jadwal untuk Adzan. Banyak hal-hal yang terlihat sepele waktu itu tapi ternyata cukup berpengaruh pada kehidupan kami selanjutnya. Misalnya saat kajian ke-Islaman. Meski kami mendatangkan seorang ustadz untuk mengisi kajian tersebut, namun kami membuat jadwal untuk teman-teman anggota RISMA agar menjadi pembawa acara dan mengisi kultum di kajian tersebut. Semua dapat giliran. Awalnya banyak yang belum berani untuk berbicara di sebuah majelis, dengan berbagai alasan. Ada yang merasa malu, ada yang merasa belum punya ilmu, pokoknya macem-macem lah. Tapi karena sudah menjadi kesepakatan, ya mau tidak mau tetap harus mau...hahaa. Sampai ada beberapa teman yang kebagian jadwal menjadi pembawa acara atau mengisi kultum, minta dibuatkan materinya sama temannya, jadi dia hanya membacanya saja. Lambat laun, akhirnya teman-teman terbiasa untuk berbicara di muka umum. Menurutku inilah salah satu hal yang membuat kami menjadi lebih percaya diri ketika kami harus meninggalkan kampung untuk menjemput rezeki ataupun menuntut pendidikan yang lebih tinggi.

Selepas SMA, beberapa teman termasuk diriku dimudahkan Allah SWT untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Kami diterima di PTN. Berbekal kebiasaan kami ngumpul di Mesjid dan berorganisasi di RISMA, maka saat kuliah pun, Alhamdulillah kami tidak banyak mengalami kendala untuk beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan kampus. Aku rasa ini salah satu manfaat pentingnya berorganisasi. Toh dalam kehidupan sehari-hari kita tidak mungkin terlepas dari yang namanya organisasi. Misalnya lingkungan keluarga. Iya khan, keluarga adalah organisasi terkecil yang didalamnya kita menjadi anggota.

Sampai sekarang, alhamdulillah organisasi RISMA masih berjalan dengan berbagai dinamikanya. Para alumnus yang pergi merantau seperti diriku tetap diundang ke acara-acara yang digelar oleh RISMA. Biasanya pas momen lebaran, ada acara reuni sekalian pengajian akbar bagi alumnus dan anggota RISMA. Rasanya ya seneng banget melihat adik-adik yang dulu masih kecil-kecil, masih suka pipis di celana...hahaa, sekarang sudah menjadi remaja-remaja penuh harapan. Selain memanfaatkan momen lebaran, beberapa alumnus juga terkadang di undang secara khusus untuk memberikan pembekalan pada acara diklat kepemimpinan calon-calon pengurus RISMA. Menurutku acara-acara seperti inilah yang membuat organisasi RISMA terus dapat bertahan dan berkesinambungan, meski ada pasang surutnya, namun tidak sampai tenggelam dan mati.

Itulah sedikit kenangan tentang Ramadhan-Ramadhan yang pernah aku jalani di kampung. Meski sudah lama dan  jarak berjauhan, tapi tetap saja muncul rasa kangen kepada teman-teman di RISMA dulu. Apalagi kalo sudah berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan. Alhamdulillah, beberapa teman berhasil menjadi ustadz dan ustadzah beneran. Mereka menjadi pendidik di beberapa sekolah dan sekarang mereka malah sudah berhasil mendirikan sekolah SMP Islam Terpadu pertama di kota kecamatan. Sekolah berbasis ke-Islaman dan berkonsep menyatu dengan alam. Dari semula hanya tiga kelas dengan ruang kelas terbuat dari kayu dan bambu, sekarang sudah berganti gedung berlantai tiga. Hanya butuh waktu kurang lebih 5 tahun. Dari kabar teman-teman, sekarang mereka sedang merintis sebuah SDIT di sebuah wilayah yang terpencil. Sungguh kerja dakwah yang luar biasa.

Kesungguhan dan keikhlasan pastilah mendatangkan pertolongan Allah SWT dari arah yang tidak disangka-sangka. Itulah inspirasi yang aku dapatkan dari mereka. Terus berusaha memperbaiki diri, meski kadang terasa lelah, kaki harus terus melangkah, sampai akhirnya kita berada di ujung jalan dan harus kembali kepada-NYA.

Oiya, sebagai penutup artikel ringan ini, yuk kita sambut bulan Ramadhan dengan untaian do'a(2) :

"Ya Tuhanku, orang-orang yang memohon telah berhenti di pintu-Mu, orang-orang fakir di sayap-MU, perahu orang-orang miskin berhenti di tepi lautan kemuliaan dan kemurahan-Mu, mereka mengharapkan dapat melintasi pelataran rahmat dan nikmat-Mu. Ya Tuhan kami, beruntunglah orang-orang yang berpuasa, berbahagialah orang-orang yang tekun bangkit beribadah, dan selamatkanlah orang-orang yang ikhlas. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang berdosa... maka kasih sayangilah kami dengan rahmat-Mu. Limpahkanlah kemurahan kepada kami dengan karunia dan anugerah-Mu, dan ampunilah kami semua dengan rahmat-Mu. Wahai Tuhan sebaik-baik Penyanyang dari para penyanyang. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia. Sungguh Engkau senang memberi pengampunan, maka ampunilah kami wahai Yang Maha Mulia. Curahan rahmat semoga selalu terlimpah kepada junjungan kita Muhammad Saw, beserta keluarga dan seluruh sahabat. Dan, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."

(1). QS. Al Qadr (97) : 1-3
(2). Akhmad Muhaimin Azzet, M. Alwi Fuadi. 2012. Doa & Dzikir Sehari-hari Sepanjang Masa Berdasarkan Al-Qurán Dan Hadits. Yogyakarta: Sinar Kejora

Pejalan apa adanya, anti hoax, suka makanan tradisional, suka bacaan yang ringan dan sesekali menulis.

16 komentar

Subhanallah,, semoga Risma terus berjalan dan terus melahirkan generasi-generasi yang luar biasa dan bertaqwa..

Jadi ingat waktu jadi remaja masjid dulu, sayang semakin kesini gak ada lagi yang mau ngurusin masjid, yang adzan sudah orang-orang tua.. :(

wahh rindu banget sama ramadhan pengen segera puasa ramadhan...smga dipertemukan yah....

Aamiin...menjadi harapan kita semua agar terus lahir generasi-generasi luar biasa yang menebarkan kebaikan....

Iya makin banyak tantangannya mbak... mdh2an sih seperti doa El Nurien diatas, akan terus lahir generasi-generasi yang luar biasa dan bertaqwa..

Aamiin... InsyaAlah mas Angki..

Ramadhandi kampung memang lebih asyik karena saya juga mengalaminya.
Kalau itu petasan bahkan juga mulai ramai pada awal Ramadhan. Petasan bambu isi bensin atau karbit berdentum bersahut-sahutan.
Semoga berjaya dalam GA
Salam hangat dari Jombang

Sy pun masih mengalaminya pakde...hehee. Seru bgt, apalagi yg pake karbit, dibenam di dlm tanah, dentuman suaranya mirip bom...Kalo skrg udah dilarang, jadi anak2 di kampung pun gak mengalami lagi yang namanya petasan bambu dan karbit...

baca tulisan ini jdi teringat lgi masa2 di remaja masjid dulu,duluuu wkt sy muda ^_^,ramadhan memang ngangenin ya,tpi 1 yg g sy kangenin adl PETASAN! heee...

Msh terlihat muda kok mba...hehee... Iya skrg di kampung petasan pun dilarang...

Alhamdulillaah..., RISMA yang ngangeni ituuuu :) Semoga terus menjadi media untuk semakin mencintai masjid. Kian mencintai agama yang lurus ini.

Aamiin...menjadi harapan kami juga tadz, tks udah mampir kemari hehee ....

Saya sama kakak saya dulu main "long bumbung" juga. Petasan dari bambu dan karbit itu..hehe.. Skrg sudah jarang yang main long bumbung.

Eh tapi saya pakainya minyak tanah. Skrg pada gak main ini krn minyak tanah langka kali ya..


EmoticonEmoticon