Kamis, 07 Mei 2015

Nasihat Seorang Pemuda

Meski kita diperintahkan untuk menghormati yang lebih tua, dan harus menjaga etika berbicara, namun tidak mengapa jika dalam suatu pertemuan dan melibatkan banyak orang, yang muda membuka pembicaraan terlebih dahulu, dengan catatan; anak muda tersebut sudah mendapatkan mandat dan ditunjuk sebagai perwakilan atau juru bicaranya. Hal seperti ini pernah terjadi pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis. Udah mengenal sosok Khalifah Umar bin Abdul Azis khan? Ya, dari buku-buku sejarah yang pernah kubaca, beliau adalah salah satu khalifah yang pemerintahannya dianggap mampu menyamai seperti kondisi saat kekhalifahan Khulafaur Rasyidin. Kebijakan dan kesederhanaanya mampu membuat dirinya dicintai rakyatnya.

nasihat seorang pemuda

Saat beliau diangkat sebagai khalifah, perwakilan atau delegasi dari berbagai penjuru negeri datang untuk memberikan baiat dan mengucapkan selamat kepadanya. Salah satu delegasi yang datang adalah dari Bani Hasyim. Dari kalangan Bani Hasyim, majulah seorang pemuda untuk berbicara. Mengingat usianya yang masih terbilang sangat muda, Khalifah Umar pun berkata : "Biarkanlah yang maju berbicara orang yang lebih tua darimu."

Pemuda itu pun menimpali : "Semoga Allah memperbaiki keadaanmu wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya seseorang itu dinilai hanya berdasarkan kedua anggota kecilnya yaitu qolbu dan lisannya. Apabila Allah sudah menganugerahkan kepada seorang hamba, qolbu yang selalu mengingat-NYA dan lisan yang pandai bicara, maka dia berhak berbicara karena kelebihannya telah dikenal oleh orang banyak. Wahai Amirul Mukminin, seandainya usia dijadikan parameter dalam suatu urusan, tentulah dari kalangan umat ini ada orang yang lebih berhak dari engkau dengan kedudukanmu ini."

Khalifah Umar berkata : "Kamu benar, sampaikanlah apa yang ingin kamu katakan!"

Pemuda itu berkata : "Wahai Amirul Mukminin, delegasi kami datang untuk menyampaikan selamat dan bukan karena rasa takut. Andai karena rasa takut, sesungguhnya kami telah merasa aman dari kesewenang-wenanganmu berkat keadilanmu."

Khalifah Umar berkata : "Hai pemuda, nasihatilah diriku!" 

Sang pemuda pun berkata : "Semoga Allah memperbaiki keadaanmu wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya ada sebagian manusia yang teperdaya oleh sifat santun Allah yang tidak segera menghukum mereka, sehingga tergelincirlah mereka ke dalam neraka. Oleh karena itu janganlah engkau teperdaya oleh sifat santun Allah kepadamu karena panjangnya angan-anganmu dan banyaknya pujian orang kepadamu. Semoga Allah memasukkanmu ke dalam golongan orang-orang shalih dari kalangan umat ini." Kemudian pemuda itu menutup pembicaraannya dan diam.

Khalifah Umar bertanya kepada rombongan dari Bani Hasyim, "Berapa usia pemuda itu?". Dijawab, "Dia berusia kira-kira sebelas tahun." Selanjutnya, Khalifah Umar pun menanyai asal usul pemuda tersebut. Ternyata, anak muda itu masih keturunan dari Al Husain bin Ali dan beliau pun memujinya dan mendoakan kebaikan untuknya. 

Maha benar Allah dengan firmannya : "Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Allah." (QS. Al A'raaf (7) : 58)

*Kisah tersebut terdapat dalam buku "Athfaalul Muslimin, Kaifa Rabbaahumun Nabiyyul Amiin" Penulis : Jamaal Abdur Rahman. Edisi Bahasa Indonesia : Tahapan Mendidik Anak; Teladan Rasullullah. Penerjemah : Bahrun Abubakar Ihsan Zubaidi Lc.

Pejalan apa adanya, anti hoax, suka makanan tradisional, suka bacaan yang ringan dan sesekali menulis.

2 komentar

subhanallah.. pemuda seperti inilah, yang diharapkan bangsa, berani menasehati pemimpinnya dengan bijak dan menyentuh hati..

Iyaa...smoga saja negeri ini memiliki pemuda-pemuda yang mampu membawa perubahan ke arah yg lebih baik. Smoga lahir generasi-generasi muda yg mampu mengemban amanah, tdk hanya sekedar membunyikan slogan, jargon2 mengatasnamakan untuk kesejahteraan rakyat namun justru merampas dan memiskinkan rakyatnya sndiri....


EmoticonEmoticon