Selasa, 14 April 2015

Lelaki Pahlawanku

Dari sebuah potret yang sudah buram, aku tau wajah lelaki itu semasa mudanya. Terlihat tampan, bersih dan memancarkan kecerdasan. Perawakannya kurus tinggi. Entah kenapa, selama hidupnya tubuhnya tetap kurus. Mungkin karena kebiasaannya menghisap rokok, atau mungkin karena beban hidup yang mesti dijalaninya sebagai ayah bagi ke enam anaknya. Meski lahir dan besar di kampung, lelaki itu berbeda dengan para lelaki lain di kampungnya. Ia memiliki ketertarikan yang demikian kuat terhadap dunia pendidikan. Sebagian masa mudanya dihabiskan dengan belajar di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA). Sebagian lagi dihabiskannya di pasar hewan. Maklum saja, bisnis keluarganya adalah berdagang sapi. Ketiga saudara laki-lakinya menjadikan bisnis keluarga menjadi profesi utama selain menjadi petani. Hanya lelaki itu yang memilih jalan berbeda. Ia memilih menjadi guru di sebuah madrasah.

lelaki pahlawanku

Tak banyak harapan yang bisa disemat dengan menjadi seorang guru pada saat itu, kecuali gelaran pahlawan tanpa tanda jasa. Ya, saat itu guru menjadi salah satu profesi yang sangat tidak menjanjikan dari sisi finansial. Penghasilan dari seorang guru madrasah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi sepertinya, lelaki itu tetap kukuh dengan pilihannya menjadi seorang guru. Seolah yakin, pendidikanlah yang akan mengubah garis hidup anak keturunannya. Berpuluh tahun kemudian, keyakinan itu terbukti membungkam pandangan miring dari sanak dan tetangga yang selama ini mencibir dan meremehkannya.

Ia pun berani mengambil tanggungjawab dengan menikah di usia muda, 23 tahun. Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, lelaki itu menjalani beragam profesi tambahan. Petani, Produsen tas dan topi sekaligus sebagai penjualnya, Peternak ayam, bebek, kambing, dan sapi. Sungguh seorang lelaki pekerja keras. Ah, seandainya ia masih hidup, mungkin aku bisa belajar lebih banyak lagi. Sungguh aku merindukan lelaki itu...

Aku masih ingat ketika lelaki itu membelikan anak lelakinya sebuah sepeda. Bukan sepeda baru, tapi masih kuat dipakai anak lelakinya untuk mengaji di madrasah. Ya, anak lelakinya diwajibkan untuk belajar di dua tempat sekaligus. Pagi hari belajar di sekolah dasar negeri, dan sore harinya belajar di sebuah madrasah. Selepas Maghrib pun lelaki itu masih sempat mendengarkan bacaan Qurán anak-anaknya. Hampir setiap hari, anak-anaknya diwajibkan membaca Al Qurán dengan bersuara lantang. Ada satu huruf saja yang salah baca, lelaki itu akan membetulkannya, meski ada di kamar sebelah. Sungguh aku kagum dengan kecerdasannya. Lelaki itu menguasai bahasa Arab dan tulisan Arab gundul meski tidak secara khusus belajar di pesantren.

Hari ini, lelaki itu tepat berusia 70 tahun. Andai diberikan kesempatan bertemu, mungkin aku tidak akan pernah bisa berkata-kata dengan panjang lebar. Tidak akan pernah bisa, kata-kata tidak pernah bisa mewakili kerinduanku. Mungkin aku akan meminta anak lelakiku untuk menemaniku, menemui lelaki itu. Aku akan meminta anak lelakiku untuk melantunkan hafalan Quránnya di hadapan lelaki itu. Ya, aku berharap hafalan Qurán anak lelakiku menjadi hadiah terbaik untuknya. Meski hafalannya belum sempurna, aku berharap lelaki itu akan tersenyum dan memelukku saat bertemu denganku... met milad pahlawanku, semoga Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik. Semoga Allah melapangkan dan menerangi kuburmu... Aamiin...

Pejalan apa adanya, anti hoax, suka makanan tradisional, suka bacaan yang ringan dan sesekali menulis.

This Is The Oldest Page

2 komentar

Aamiin..

Luar biasa.. Beruntung sekali, anak-anak yang memiliki ayah seperti dia.. lelaki seperti dia patuh dicontoh dan dikenang sepanjang masa..

Tks ya El... setiap anak pasti memiliki kenangan tersendiri ttg sosok seorg ayah...


EmoticonEmoticon