Kamis, 19 Januari 2017

Ajak Anakmu Jalan-Jalan

Jalan-jalanlah. Menabunglah khusus untuk jalan-jalan. Tidak perlu jauh. Apalagi keluar negeri. Indonesia punya banyak sekali objek wisata yang bisa didatangi.
ajak anakmu jalan-jalan
 
Ibu saya suka sekali jalan-jalan. Sebelum usia saya 5th, masyallah tabarakallah saya sudah menikmati pelangi di Hawaii, Disneyland di los angeles, berfoto dengan Merlion-nya singapura, sudah berlarian di kaki-kaki Eiffel, nengok fir’aun dari dalam pyramid, melihat kota miniature di Swiss, mampir ke Vienna, singgah di Belgi, mencium tulip asli di Belanda, menyaksikan pertunjukan buaya di perternakannya di Thailand, dan tentunya mengelilingi baitullah.

Ibu saya, kalau punya uang sedikit, mikirnya ‘ayo.. kita mau kemana’. Liburan panjang selalu di isi jalan-jalan. Nggak punya uang naik pesawat, naik kereta. Nggak punya uang naik kereta, naik mobil. Saya ingat ketika kami berhari-hari bermobil melintasi keseluruhan pulau Sumatra untuk sampai ke aceh. Gedean dikit, kami berhari-hari juga di mobil untuk naik dari florida ke new York untuk melihat Niagara falls. Di perjalanan kami berhenti ke pabrik coca cola, melihat restoran pertama kolonel sander’s nya KFC, rumahnya Elvis Presley dan masjid pertama dan tertua di amerika. Kaya? Boro-boro. Ibu saya memasak bertahun-tahun, menjaga puluhan bayi, ngosrek kamar mandi, terima jaitan. Tidak dari uang gaji kerja kantoran.

Memberikan anak-anak mainan, tidak akan diingat, yang ada baru 3 hari bosan, dan 3 minggu berikutnya sudah rusak. Tapi mengajak anak jalan-jalan, kenangan nya akan lebih membekas, ia akan ingat sampai lama. Belum lagi biasanya kan diabadikan dengan foto, memorinya akan dibagikannya ke anak-anaknya, dan anak-anaknya anaknya kelak. Hadiah yang bertahan seumur hidup dalam bentuk cerita.

Cara mengasuh itu diturun-temurunkan jadi saya pun kini demikian dan anak-anak saya sangat menyukainya. Tidak perlu ke berlin, ke kota di pulau sebelah pun cukup. Dengan jalan-jalan kita menambah ilmu, wawasan dan pengalaman, dan itu mengayakan jiwa. Nikmati makanan setempat, lihat apa yang menjadi ciri khas budayanya. Perjalanan singkat kami ke Palembang 2 bulan lalu memberikan banyak sekali pengalaman ke anak-anak. Dari airport saja, kita sudah bisa bercerita tentang Sultan Mahmud Badaruddin. Trip ke stadium jakabaring membuka diskusi dari topik Asean games sampai ke bahasan korupsi. Kami juga mengunjungi museum quran raksasa di sana. Yang per lembarnya di pahat di kayu-kayu besar 3 kali pintu biasa. Sisanya? Melintasi jembatan ampera saja mereka sudah gembira, apalagi kalau berkesempatan menikmatinya dari resto pinggir sungai untuk view malam yang indah. Mereka makan mpek-mpek berkali-kali sehari, sudah seperti nasi saja. Belum lagi mengagumi pembangunan LRT yang jauh lebih maju dan cepat dari Jakarta. Dari satu objek wisata ke objek wisata berikutnya, ayahnya menceritakan tentang kerajaan sriwijaya, yang karena tumbuh di luar, saya pun tidak mengetahuinya.

Objek wisata yang TIDAK di kunjungi saja bisa jadi pelajaran. Kami jadi bisa menjelaskan kenapa kita tidak mengunjungi pulau kemaro yang ada pagoda nya, dengan harapan semoga ketika mereka dewasa dan berkelana tanpa kami nanti, mereka juga tidak mendatangi rumah peribadatan agama lain yang masih aktif digunakan. Kami mencoba mie celor yang ternyata tidak cocok di lidah. Mereka berkesempatan juga shalat jumat di masjid cheng hoo, dan mama nya jadi terpaksa meng-google tentang kaisar cina itu agar bisa bercerita. Disela-sela waktu, saya pun sempat bersilaturrahmi dan bertemu dengan teman-teman grup wa yang ada disana. Kami di Palembang cuma 50 jam saja, tapi pengalaman bagi saya dan anak-anak sudah sungguh luar biasa

Berjalan-jalanlah. Terutama jika anak anda sudah lebih dari 7th usia. makan pagi di finland dan makan siang di maladewa. shalat ashar di sabang dan isya di surabaya. jalan-jalanlah. tidak perlu ke raja ampat, garut juga menawarkan kenikmatan alam tiada tara. main air, naik gunung, masuki gua. rasakan wisata lidah beragam rupa. Nikmati bumi allah yang luas ini sebelum tutup usia. Jalan-jalanlah. Kenangan yang anda tinggal pada anak-anak dengan membawanya berkelana, jauh lebih berharga dari mainan yang sering anda belikan untuk mereka…dan akan bertahan jauh lebih lama.

“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu (Q.S 71:19-20)
“Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman saja” -St. Agustine
(Sarra Risman)
***
Ditulis oleh Sarra Risman di grup Parenting with Elly Risman and family

Jumat, 18 Maret 2016

KAKATU - Aplikasi Pelindung Anak dari Kecanduan Games dan Pornografi

Masih melanjutkan tulisan tentang Seminar Nasional Parenting. Narasumber ke-2 dalam seminar tersebut adalah Muhamad Nur Awaludin, S.Kom, biasa dipanggil Mumu. Beliau adalah Co-founder Kakatu. Udah familiar dengan Kakatu belum? Wah kalo sahabat blogger sudah menikah, dan sudah memiliki momongan tapi belum tau Kakatu, mendingan terus lanjutin baca postingan ini sampe selesai... haha. Iya, Kakatu merupakan startup asal Bandung *bangga bgt nih jadi warga Bandung haha, didirikan pada tgl 01-02-2014, yang membuat aplikasi Android untuk membantu orangtua dalam melindungi dan mendidik anak-anaknya dalam mengakses Gadget.

Aplikasi Pelindung Anak dari Kecanduan Games dan Pornografi

Saat ini rasanya hampir mustahil menjauhkan anak-anak dari yang namanya Gadget. Kalopun orangtua keukeuh tidak memberikan Gadget kepada anaknya, apakah orangtua bisa menjamin bahwa anaknya tidak memainkan Gadget saat bermain dengan teman-temannya?. Bisa saja khan anaknya pinjem Gadget milik temennya. Kalo udah begitu, mungkin akan lebih susah lagi pengawasannya. Padahal banyak sekali hal negatif yang bisa terpapar dari kebiasaan mengakses Gadget. Bukan hanya beresiko terpapar pornografi, melainkan juga bahaya kecanduan games, bahkan dari games yang dianggap aman bagi anak.

Mas Mumu menceritakan tentang dirinya yang mantan pecandu games. Mungkin banyak orangtua yang berpandangan seperti ini, daripada anak main di luar gak jelas, stress, pergaulan yang mengkhawatirkan bisa membuat anak jadi pemabuk, pecandu narkoba, mendingan main games aja di rumah. Cuman main games kok, lagian khan di rumah bisa diawasi, tuh bener khan anaknya anteng gak rewel. Hal inilah yang membuat orangtua mengijinkan anaknya main games. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati, selama bulan Januari-Oktober 2015, sebanyak 15% anak Indonesia bermain games lebih dari 15 jam dalam seminggu.

Kondisi tersebut tentu sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan masa depan anak. Maka perlu pengawasan orangtua meski anak memainkan games yang menurut orangtua aman. Kenapa? Karena menurutku anak adalah makhluk yang sangat cepat belajar, memiliki ketertarikan dan kemampuan yang luar biasa dalam memainkan games. Aku pernah mencoba memainkan games Flight Simulation, ternyata susah, gagal mulu, baru pada kali keberapa percobaan, pesawat bisa terbang tanpa tercebur ke laut. Namun pas Ka (7thn) mencobanya, hanya sekali dua kali langsung bisa memainkannya. Nah, lambat laun kalo kebiasaan anak main games tanpa pengawasan, tentu mereka akan terus mencari games yang lebih menantang dan tidak menutup kemungkinan, anak akan kecanduan dan merusak masa depannya.

Mas Mumu dengan pengalaman hidupnya sebagai mantan pecandu games, memberikan ciri-ciri games yang dapat menimbulkan adiksi (kecanduan), diantaranya :

1. Games tersebut dapat dimainkan secara berkelompok
2. Memiliki level challenge, quest, reward dan experience point
3. Ada ajang turnamen mengenai games tersebut
4. Jika games tsb ditanyakan ke orang lain, 70% dari mereka mengetahuinya
5. Bersifat dinamis secara gameplay & umumnya adalah game online
6. Mempunyai story line atau cerita yang menarik sehingga gamers menjadi baper

Contoh games yang sekarang dapat menimbulkan adiksi pada level sangat, diantaranya DOTA 2, World of Warcraft, Ragnarok, League of Legends, Final Fantasy, Age of Empires, Clash of Clans, Command & Conquer, Point Blank, Counter Strike, Call of Duty, Conflict Vietnam dll.

Selain itu mas Mumu, juga memberikan kiat untuk memilih games yang patut buat anak-anak. berikut kiatnya :
1. Carilah games yang sesuai dengan usia anak.
2. Cek rating di depan box games, yang menyatakan : kepantasan usia, penjelasan isi (di belakang) yang mengindikasikan elemen-elemen dalam games yang menyebabkan rating tersebut di berlakukan, ketertarikan dan kekhawatiran.

Rating konten di Amerika

Dan yang harus di ingat oleh para orangtua, teknologi hanyalah sebagai penunjang masa depan dan dibuat untuk membantu memecahkan masalah setiap orang, namun pengasuhan orangtua tetap tidak dapat dipindahtangankan terhadap kecanggihan teknologi.

Bagi yang tertarik mengetahui sosok dibalik KAKATU, inilah mas Mumu dan sederet prestasi nasional maupun internasionalnya :

CEO KAKATU - Muhamad Nur Awaludin

Untuk lebih tau banyak tentang KAKATU, langsung aja berkunjung ke http://kakatu.web.id

Rabu, 16 Maret 2016

Pendidikan dan Pola Asuh Yang Sehat

Seperti yang aku sampaikan di postingan sebelumnya, materi dari narasumber Seminar Nasional Parenting, akan aku share dalam beberapa postingan. Materi pertama dari Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. Alhamdulillah, puji syukur, diberikan kesempatan untuk belajar secara langsung dan bertatap muka dengan prof. Arief. Menurutku, aura beliau sebagai guru besar sangat terasa, beda dengan narasumber biasa. Saat acara baru dimulai, naluri beliau sebagai pendidik langsung muncul dengan melarang sebagian kecil ibu-ibu yang asyik jeprat jepret untuk memfoto dengan gadgetnya dan menanyakan apakah semua peserta sudah memperoleh handout dan sudah menyiapkan alat tulis? Teope bgt prof... jadi inget zaman kuliah baheula haha...

pendidikan dan pola asuh yang sehat
Pendidikan
Masuk ke materi awal. Dalam UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kata kunci untuk memahami pendidikan yaitu usaha sadar, terencana, suasana belajar, proses pembelajaran dan output/karakteristik yang dihasilkan. Orangtua, guru dan masyarakat harus memahami hak dan kewajibannya sebagai pendidik, dengan lebih mengutamakan pada akhlak dan karakteristik anak didiknya. Para pendidik harus memiliki pemahaman bahwa pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan para lulusan dengan karakteristik sebagai berikut:

1. Bertaqwa
Ketaqwaan adalah hal paling utama yang mesti dimiliki oleh anak didik. Ini adalah pondasi yang kokoh untuk menopang potensi-potensi lainnya. Apalah artinya kecerdasan tinggi tanpa kekuatan spiritual keagamaan? Yang terjadi kemungkinan adalah munculnya pribadi-pribadi dengan egoisme tinggi dan senang menabrak norma sosial dan keagamaaan.

2. Berkepribadian matang
Toleran tapi berprinsip, humble, tidak mudah terombang-ambing dalam menyikapi berbagai issue di era digital, percaya diri dan menghargai orang lain adalah beberapa sikap yang biasa terlihat dari sosok yang memiliki kepribadian matang.

3. Berilmu mutakhir dan berprestasi
Setiap zaman pastilah melahirkan tantangan-tantangan yang berbeda-beda. Untuk itu pendidikan harus mampu membekali lulusannya dengan ilmu-ilmu mutakhir yang sesuai dengan zamannya.

4. Memiliki rasa kebangsaan
Era digital telah mengikis sekat-sekat geografi sehingga terjadi komunikasi yang intens dan terbuka antar negara. Jika tidak hati-hati, pengaruh negatif dari negara asing akan dengan mudah masuk melalui berbagai jalan seperti ekonomi, budaya, gaya hidup, politik dan lain sebagainya. Atas nama pertumbuhan ekonomi, para pemimpin dengan wawasan kebangsaan yang dangkal akan dengan mudah menyerahkan penguasaan sumber daya alam ke pihak asing.

5. Berwawasan global
Para lulusan pendidikan calon pemimpin masa depan, wajib berwawasan global agar memahami issue-issue yang sedang berkembang dan bisa menghadapai berbagai tantangan di era globalisasi. Tantangan tersebut diantaranya tentang masalah teknologi, krisis energi, perubahan iklim, persaingan lapangan pekerjaan, komunikasi yang intens dan terbuka serta komunitas yang sangat heterogen.

Pola Asuh Yang Sehat
Pola asuh di lihat dari perilaku orangtua, bisa dibedakan menjadi 4 pola:

1. Otoriter
Pola asuh yang otoriter, tercermin dari perilaku orangtua yang merasa paling tau, berkuasa, suka memerintah, selalu merasa benar dan suka menyalahkan serta emosial. Perilaku semacam ini cenderung menjadikan watak anak : merasa kurang tau, tidak berdaya, menurut, takut salah, temperamen dan menerima saja.  Sehingga jati diri anak yang muncul adalah sulit mengaktualisasikan diri, tidak berprestasi, kepedulian rendah, mendahulukan emosi untuk menyelesaikan masalah dan mudah terpengaruh.

2. Terlalu Melindungi
Pola asuh yang terlalu melindungi anak, biasanya terlihat dari perilaku orangtua yang selalu memanjakan, memenangkan dan membela sang anak, sehingga watak yang timbul dalam diri anak adalah menjadi tergantung, merasa terjamin dan selalu berlindung pada orangtua. Kondisi ini dapat menyebabkan anak menjadi sulit berperan dewasa, merasa berkuasa dan rentan atau tidak tahan banting dalam menghadapi kesulitan.

3. Terlalu Membebaskan
Pola asuh yang terlalu membebaskan muncul dari perilaku orangtua yang sangat percaya pada anak dan cenderung mengijinkan semua permintaan sehingga anak merasa sudah dewasa dan tidak terikat sistem. Jati diri anak yang muncul adalah kemauannya yang mesti dituruti dan bisa menjadi liar atau binal. Aku jadi teringat salah satu peristiwa, kala itu ada berita kematian anak lelaki dari seorang musisi beken di tanah air. Yang menjadi perhatianku saat itu adalah usia anak tersebut yang masih belia, sekitar kelas 2 SMP kalo nggak salah, namun sudah memiliki tato permanen di leher, merokok dan DO pulak dari sekolah. Aku kira watak dan jati diri anak tersebut adalah penggambaran yang nyata dari pola asuh yang terlalu membebaskan.

4. Suri Tauladan
Inilah pola asuh yang ideal bagi anak. Perilaku orangtua seharusnya bisa menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Paerilaku ini tercermin dari kemampuan orangtua untuk mengarahkan atau menjelaskan, mampu dan mau berdialog dengan anak, memberi pedoman/berprinsip, bekerjasama dan membimbing anak. Ketika anak mendapatkan perlakuan semacam itu, umumnya anak akan menjadi hormat kepada orangtua, senang berdiskusi, memiliki kesadaran dan tujuan hidup, merasa diperlukan dan memiliki tempat bertanya, sehingga pada akhirnya anak akan mampu menjaga nama baik keluarga, mudah bersosialisasi, berprinsip, dewasa dan memiliki akar dalam keluarga. Meski sulit menjadi orangtua yang ideal, tapi bukan hal yang mustahil juga kalo kita sebagai orangtua, berusaha memberikan pola asuh yang terbaik buat anak. Memberi keteladanan dari hal yang kecil dan selalu berdoa untuk kebaikan anak, aku kira bisa mulai diterapkan dan menjadi budaya yang baik di lingkungan keluarga.

Disclaimer : postingan ini hasil dari mengikuti Seminar dengan narsum prof. Arief, namun kalo ada hal yang kurang pas, bisa jadi karena pemahamanku yang bias, silakan di komplen di kolom komentar.